Karaoke Bawa Ganja, Pengunjung Ditangkap Polisi

Posted By on October 26, 2014

karaoke-bawa-ganja-pengunjung-ditangkap-polisi-r5h

SLEMAN – Seorang pengunjung di tempat karaoke keluarga CSN (52) warga Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta ditangkap karena kedapatan membawa ganja.

CSN ditangkap dalam pelaksanaan operasi penyakit masyarakat (pekat) yang digelar Polsek Depok Barat.

Saat dilakukan penggeledahan petugas mendapati satu linting ganja yang disimpan pengunjung itu dalam bungkus rokok.

Kapolsek Depok Barat AKP Luthfi mengatakan, pelaksanaan operasi digelar di salon daerah Babarsari, Caturtunggal, Depok yang diindikasikan menawarkan jasa plus dan sejumlah tempat karaoke. Selain prostitusi sasaran operasi yakni narkotika.

“Saat kita razia di salon hasilnya nihil, tapi saat kita lakukan razia di tempat karaoke kita temukan satu orang bawa ganja,” katanya Sabtu 25 Oktober 2014.

Pengunjung berisial CSN itu, menurut Luthfi diamankan dari salah satu ruangan. Begitu penggeledahan dilakukan, pengunjung itu kedapatan membawa ganja lintingan.
Tersangka beserta barang bukti ganja itu pun langsung diamankan di Polsek Depok Barat.

“Untuk pengembangan, tersangka beserta barang bukti kita limpahkan ke Satresnarkoba Polres Sleman,” tandas Luthfi.

Brigadir SN Juga Jadi Pengedar Sabu-Sabu

Posted By on October 26, 2014

 

brigadir-sn-juga-jadi-jadi-pengedar-sabu-sabu-pHR

SEMARANG – Brigadir Suryo Nugroho (25) anggota Polsek Banyumanik yang ditangkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Jateng karena penyalahgunaan narkoba juga diduga sebagai pengedar sabu-sabu.

Itu berdasarkan hasil penyidikan sementara yang dilakukan penyidik Sub Direktorat III Dit Resnarkoba Polda Jateng.

Direktur Resnarkoba Polda Jateng, Kombes Pol Nasib Simbolon, mengatakan barang bukti sabu-sabu yang disita dari tangan tersangka itu 7 gram terbagi 2 paket plastik klip.

“Pengedar juga. Barang bukti 7 gram itu tidak mungkin (dipakai) sendirian lah,” ungkapnya saat ditemui di Mapolda Jateng, Jumat (24/10/2014) selepas Salat Jumat.

Penyidikan sementara, kata dia, memang selain tersangka ini sebagai pemakai narkoba juga pengedar.

Sehingga dijerat pasal berlapis. “Tersangka sudah ditahan (di Polda Jateng). Penyidikan jalan terus,” lanjutnya.

Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes Pol A Liliek Darmanto, mengatakan, sanksi tegas berupa pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) alias dipecat bisa dijatuhkan kepada tersangka.

“Aturannya sudah ada. Ketentuannya apa ya selalu diikuti,” kata dia ditemui terpisah.
Diketahui, aturan-aturan yang ada terkait pemberhentian anggota Polri terdapat di Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Polri (KIP) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pemberhentian Anggota Polri.

Dalam aturan itu disebutkan beberapa unsur-unsur yang bisa membuat seorang polisi dipecat. Di antaranya melakukan tindak pidana, dianggap tidak layak dipertahankan sebagai anggota polri oleh atasan hukumnya (ankum) dan dihukum (disangka melakukan tindak pidana) dengan ancaman hukuman lebih dari 4 tahun.

Tersangka Brigadir Suryo Nugroho itu dijerat penyidik dengan pasal berlapis; Pasal 114 ayat (2) dan atau Pasal 112 ayat (2) Undang – Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika.

Pada Pasal 114 ayat (2) itu diketahui ancaman maksimal dari tersangka peredaran narkotika golongan 1 di atas 5 gram, bisa pidana mati, seumur hidup atau pidana penjara minimal 6 tahun dan maksimal 20 tahun. Sabu-sabu itu termasuk narkotika golongan 1.

“Ketentuan yang ada tentu diikuti. Oknum polisi bisa di PTDH tanpa harus menunggu inkracht (putusan pengadilan mengenai tindak pidananya). Jika pimpinan sudah menghendaki ya bisa, tentu dengan pertimbangan-pertimbangan,” lanjutnya.

Terkait oknum polisi yang tersangkut kasus narkoba di Jateng, kata Liliek, sebenarnya Kapolda Jateng Irjen Pol Nur Ali, sudah kontinyu mengingatkan. Baik langsung maupun via telegram yang dikirimkan ke jajaran.

“Narkoba itu kalau tidak bentengi diri, pasti kita bisa kena. Mau pejabat, pejabat tinggi, sipil, orang pinter, orang bodo, kalau tidak bentengi diri ya bisa kena. Jadi semuanya tergantung individu masing-masing,” jelasnya.

Diketahui, Brigadir Suryo Nugroho ditangkap pada Minggu 12 Oktober 2014 sekira pukul 19.00 di depan rumah kosong nomor 13 Jalan Mulawarman, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Barang buktinya dua paket sabu – sabu dibungkus plastik klip bening, dua lembar bukti transfer BCA, sebuah telepon seluler (ponsel) dan sampel urine.

Tersangka membeli sabu – sabu dari seseorang berinisial N yang berada di Yogyakarta dengan cara transfer sekira setengah jam sebelum akhirnya ditangkap atau sekira pukul 18.30 WIB.

Setengah jam kemudian, tersangka dihubungi N, memberikan alamat tempat mengambil sabu – sabu yang dipesan itu. Lokasinya depan rumah kosong di Jalan Mulawarman tersebut.

Sekira pukul 19.00 WIB, tersangka menuju alamat pengambilan, mengambil 2 paket sabu – sabu masing – masing satu paket dalam bungkus plastik klip bening dibungkus plastik kresek warna hitam. Saat berjalan mau pulang, petugas dari Polda Jateng menangkapnya dengan barang bukti itu.

Telusuri Indikasi Yogyakarta Lokasi Pencucian Uang

Posted By on October 26, 2014

telusuri-indikasi-yogyakarta-lokasi-pencucian-uang-PUX
YOGYAKARTA – Indikasi Yogyakarta sebagai sasaran lokasi pencucian uang juga menjadi sorotan Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM.

“Hal ini memang menarik. Perputaran uang semakin meningkat, dan memang tidak menutup kemungkinan ada uang hasil tindak pidana,” kata peneliti Pukat, Faris Fachryan, kemarin.

Apalagi, lanjutnya, karakter dan iklim di Yogyakarta sangat terbuka dan mudah menerima kedatangan investor. Itu diperkuat dengan pertumbuhan sektor penunjang pariwisata seperti hotel yang saat ini semakin menjamur.

“Analisa kami bisa saja pelaku kejahatan mencuci uang dengan modus investasi bidang properti, hotel, rumah atau lahan.”

Dia memberikan contoh aset hasil tindak pidana pencucian uang Anas Urbaningrum yang disita oleh KPK. Lokasi aset Anas berada di Yogyakarta. Juga ada aset lain terkait kasus korupsi di tubuh Korlantas Polri yang disita KPK karena terkait dengan pencucian uang, lokasinya juga berada di Yogyakarta.

Namun, untuk mengungkap apakah benar ada pencucian uang lain yang terjadi di Yogyakarta, dia menilai hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena, pencucian uang itu sangat luas dan bisa melibatkan lebih dari dua orang.

“Bisa jadi orang luar, tapi mencuci uangnya di Yogya, seperti kasus Anas dan Korlantas. Tapi bisa juga pelakunya orang lokal, dan mencuci uangnya di sini. Aliran uang juga sulit terdeteksi, bisa melalui bank, atau orang lain di luar pelaku utama,” imbuhnya.

Untuk itu, dia menyarankan agar Pemda DIY dan aparat penegak hukum berkoordinasi serius dengan PPATK dan KPK untuk menindaklanjuti indikasi Yogyakarta sebagai ladang pencucian uang. Bahkan, temuan PPATK adanya rekening gendut dan ratusan transaksi keuangan mencurigakan di DIY selama kurun waktu tahun 2014 ini, dan terindikasi tindak pidana, layak ditelusuri lebih jauh.

“Memang tidak semudah yang dibayangkan jika berkaitan dengan kasus korupsi, harus mengusut dulu kasus tersebut dan kemudian dikembangkan ke pasal pencucian uang. Perlu sinergi antara PPATK, KPK, kejaksaan, polisi, dan Pemda DIY untuk membongkar indikasi tersebut.”

Diberitakan sebelumnya, Yogyakarta disinyalir menjadi salah satu lokasi favorit untuk mengalihkan uang hasil kejahatan atau pencucian uang (money laundering). Sejauh ini terindikasi investasi pada bisnis properti menjadi modus yang empuk bagi pelaku pencucian uang.

Kejaksaan Tinggi DIY telah mencium adanya aksi pencucian uang tersebut. Namun, sejauh ini belum memperoleh alat bukti yang cukup untuk mengungkap pelaku tindak pidana pencucian uang.

Kasi Penerangan Hukum Kejati DIY Purwanta Sudarmaji menyebutkan bahwa tidak hanya tindak pidana korupsi yang bisa berujung pada pencucian uang. Tapi juga tindak pidana lain seperti pidana umum, narkotika, dan terorisme.