Mandor PLTU Tewas Dikeroyok

Posted By on October 1, 2014

BATANG – Septian Stiya Man­dala, 31, mandor Proyek PLTU Batang, warga Desa Selorejo, RT. 06 RW 03, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Selasa (30/9) pagi kemarin, te­was di RS QIM Batang. Man­dala tewas setelah sebelumnya Senin (29/9) malam, dikeroyok oleh 4 orang pemuda warga Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang.
Kejadian bermula Senin (29/9) malam kemarin, saat Septian Stiya Mandala, sedang mengerjakan jalan tembus Desa Sigandu hingga Desa Ujungnegoro. Ia sedang berada dibase camp Desa Depok, Kecamatan Kandeman.
Tak lama berselang, datang 4 pemuda warga Desa Depok dalam kondisi mabuk, meminta uang rokok. Karena mereka sering meminta uang rokok, dan kebetulan Mandor proyek tersebut tidak memegang uang, akhirnya permintaan itu ditolak halus.
Karena tidak diberi uang rokok, Slamet Santoso alias Atok, 20, warga Dukuh Depok Wetan, Desa Depok, Kecamatan Kandeman, justru marah dan menantang berkelahi.
Namun tidak dilayani oleh Mandala, keempat pemuda ter­sebut makin kalap dan menggeroyok Mandala sang mandor proyek dengan menggunakan batu kali, yang ada disekitar base camp. Hingga Mandala mengalami luka serius di bagian kepalanya.
Melihat adanya keributan di basecamp proyek, Abadi, 40, supir truk proyek, warga Dukuh Gondangan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, membantu melerai pengeroyokan tersebut. Namun naas, ia justru ikut dianiaya hingga mengalami luka serius di kepala dan tangan.
Tindakan brutal itu baru berhenti, setelah beberapa karyawan proyek beramai ramai mengusir keempat warga Desa Depok tersebut. Malam itu juga, Mandala dan Abadi dilarikan ke RS QIM, untuk mendapatkan perawatan medis, akibat lukanya yang serius. Namun karena sudah parah, Mandala akhirnya tewas, sedangkan Abadi kondisinya masih kritis.
Harto, 50, karyawan Proyek, warga Desa Gedok, RT. 02 RW 09, Kecamatan Canan, Kabupaten Blitar, yang menolong Mandala saat dikeroyok mengungkapkan, 4 orang tersebut sering meminta uang rokok, kepada Mandala.
“Malam itu, 4 pemuda yang jelas dalam kondisi mabuk, saat tidak diberi uang oleh Mandor, mereka langsung marah dan mengeroyok dengan batu, hingga Mandor dan supirnya luka parah. Sekarang masih dirawat RS QIM, namun Mandor Proyek Mandala akhirnya tewas,” ungkap Harto, saat memberikan keterangan di Polres Batang.
Satreskrim Polres Batang, datang ke lokasi kejadian, dan langsung meminta keterangan sejumlah saksi. Senin (29/9) malam itu juga, aparat berhasil menangkap dua pelaku utama pengeroyokan, yakni Slamet Santoso alias Atok, 20, dan Agus, 19, warga Dukuh Depok Wetan, Desa Depok, Kecamatan Kandeman.
Sedangkan dua pelaku lainnya langsung melarikan diri, saat mengetahui dua rekannya tertangkap Polisi.
“Empat pemuda pelaku pengeroyokan terhadap pekerja proyek, adalah warga Depok, Kecamatan Kandeman. Dua pelaku sudah ditangkap dan dua lagi melarikan diri. Namun dua pemuda yang melarikan diri tersebut, identitasnya sudah kami ketahui. Dalam waktu dekat mereka akan kita tangkap,” kata Kasubag Humas Polres Batang, AKP Makhsus optimis.
Penyebab aksi kekerasan itu berbeda keterangan dengan pelaku. Slamet Santoso mengaku kesal dengan pekerja proyek PLTU, karena dengan adanya proyek jalan tembus dari Desa Sigandu hingga Desa Ujungnegoro. Jalan di Desa Depok menjadi rusak parah, sehingga sulit untuk dilalui. “Saya kecewa dengan jalan rusak di Desa Depok. saat kejadian saya masih kondisi mabuk, jadi marah saat tidak diberi uang rokok,” ujar Atok, saat diperiksa Satreskrim Polres Batang.

Pembunuh Siswi SMP Ditangkap

Posted By on October 1, 2014

DEMAK – Polisi berhasil me­­ringkus Sulistriyono, 23, war­ga Desa Klitih, Kecamatan Karangtengah, tersangka pem­bunuh siswi SMPN 3 Gun­tur, Vita Nafiara, 14, warga Du­kuh Ngrapah, RT 3 RW 4, Desa Sampang, Keca­matan Karangtengah akhirnya. Ia dibekuk saat bekerja sebagai kuli bangunan disebuah rumah toko (ruko) disekitar Jalan Pesantren, Kampung Kreo Selatan, Larangan, Tangerang, Provinsi Banten.
Kini pelaku ditahan di sel Mapolres Demak. Pelaku ternyata tega menghabisi korban didorong motif sakit hati atau dendam membara. Sulistriyono mengaku, dirinya kerap dihina dan diejek korban didepan mertuanya tentang kenakalannya. Yakni, dicap sebagai penjudi, pemabuk dan suka keluar malam hari.
Akibat ejekan itu, ia mengaku diusir mertua dan terpaksa pisah dengan istri dan anaknya. “Saya sakit hati dihina seperti itu,” ungkap pelaku saat dimintai keterangan Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho dan Kasubag Humas AKP Sutomo di Polres Demak, kemarin. Setelah ditangkap itu, tersangka justru mengaku senang karena tidak lagi dikejar-kejar polisi dan arwah korban.
Berdasarkan keterangan pelaku kemarin, peristiwa pembunuhan itu dilakukan kurang lebih pukul 22.00 Minggu malam Senin (20/9) lalu. Ketika itu, pelaku sempat mengajak korban untuk bertemu dengan dalih mau diketemukan dengan pacar korban yang bernama Moh Santoso, yang juga warga Desa Klitih.
“Dia (korban) saya kirimi pesan singkat melalui Handphone (HP)nya. Ia saya pancing agar mau bertemu saya karena pacarnya telah menunggu,” terang tersangka. Dengan cara seperti itu, korban kemudian bergegas menemui pelaku. Ternyata janji pelaku untuk mempertemukan korban dengan pacarnya itu tidak ditepati. Sebab, di lokasi pertemuan tidak ada Moh Santoso (pacar korban) tersebut. Justru, korban hanya bertemu pelaku sedang sendirian dijalan tepi sawah. Karena itu, mereka berdua mengobrol sebentar. Tak lama setelah itu, pelaku mencoba memancing korban agar mau ke tengah sawah. Saat itulah,tersangka melancarkan aksinya untuk membunuh korban.
Dengan perasaan dendam dan kondisi pelaku yang terpengaruh minuman keras (miras), tangan pelaku dengan cekatan berupaya membekap mulut korban dan mencekik lehernya sehingga sulit bernafas. Setelah itu, tali kain yang menempel di pakaian korban juga disobek lalu digunakan untuk menjerat leher korban hingga tewas. Jasad korban baru ditemukan pada pagi harinya.
Setelah membunuh, Sulis­triyono dengan motor menuju ke sebuah warnet dan tidur di­rumah temannya di Desa Ploso, Kecamatan Karangtengah. Se­telah dua hari dirumah temannya itu, ia berusaha kabur ke Jakarta dengan naik bus. “HP korban saya bawa agar tidak ada yang tahu kejadian ini,” katanya. Dengan dibawanya HP korban itu, petugas memang sempat kesulitan melacak pelaku. Sebab, selain itu juga tidak ada sidik jari ditubuh korban.
Namun, polisi mengamankan barang bukti berupa tali kain, sandal, sepeda ontel dan satu HP lainnya milik korban yang ada dirumah, akhirnya polisi bisa melacak dan menemui titik terang. Tak hanya itu, untuk mengetahui keberadaan pelaku lebih jauh. HP istri tersangka juga disita. Mendengar kabar HP istri disita polisi itu, tersangka Sulistriyono sempat merasa gregetan. Ia merasa istrinya tidak ikut-ikutan tapi HP nya justru disita. Ia pun terang-terangan memasang status di facebook miliknya ‘Bendol Bodem Kembali Lagi’. Melalui akun facebook itu, tersangka membenci polisi dengan mengatai bangsat dan banci. Dari situlah, polisi makin yakin bahwa Sulistriyono adalah pelaku pembunuhan Vita.
Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho mengatakan, tersangka ditangkap setelah melalui proses investigasi dan dibantu pemanfaatan tekhnologi kepolisian. “Dengan investigasi dan tekhnologi ini pelaku dapat kita lacak,” katanya.
Kasubag Humas AKP Sutomo menambahkan, akibat perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan pasal berlapis. Diantaranya pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang telah direncanakan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. “Bukti sangat lengkap dan banyak saksi,”ujarnya.

Posted By on September 30, 2014

Langkah yang dilkakukan oleh fraksi demokrat di dalam voting dalam undang undang pemilu kada sangat tepat sekali… selamat dan salam hormat  kepada partai demokrat dan bapak SBY yang telah menyelamatkan rakyat dengan undang undang pilkada yang tidak dipilih tidak secara langsung demi menyelamatkan rakyat dari kemunafikan…..